Puasa

Puasa

A. Pengertian Puasa

Secara Umum Ash-shiyam atau shaum atau puasa  berarti” menahan”, sebagaimana firman Allah Swt.

“Aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih…”(Maryam :26)

Maksudnya adalah menahan diri dari sesuatu dan meninggalkan sesuatu. Tapi bila ditinjau dari hukum syara’ adalah menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh, dan dilaksanakan semata-mata karena Allah.

Maksud dari menahan diri:

  1. Menahan diri dari makan, artinya: memasukkan sesuatu benda makanan ke dalam mulut, terus disalurkan melalui lubang tenggorokan. Jadi batasan yang disebut makan ialah bila sesuatu benda sudah melalui lubang tenggorokan.
  2. Menahan diri dari minum, artinya: memasukkan sesuatu benda cairan ke dalam mulut, terus disalurkan melalui lubang tenggorokan.
  3. Menahan diri dari hubungan suami isteri atau bersetubuh. Dilarang bersetubuh ketika berpuasa, karena berpuasa dilaksanakan pada siang hari, sedangkan malam harinya tidaklah ada hukumnya yang melarang.

Secara bahasa puasa berarti menahan dan mencegah sesuatu (al-imsak wal kaffu ‘anis sya’i). Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Maryam ayat 26 berikut ini:

Artinya: “Maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam: 26).

Kata  shaum dalam ayat di atas maksudnya adalah  diam, mencegah dan menahan untuk tidak berbicara.

Nilai-nilai dari puasa tidaklah dapat dihitung, diperkirakan atau diadakan oleh manusia (ulama, nabi, dll) tetapi nilai puasa adalah semata milik Allah. Rasulullah bersabda:

Firman Allah:” Setiap amal anak adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali amal puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya.” (H.S.R. Imam Bukhari).

Sedangkan Maksud  Puasa menurut Istilah adalah menahan diri dari segala yang membatalakan puasa ,sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan di sertai niat.

B. Keuatamaan Puasa

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasullah saw bersabda :

Allah swt berfirman ,Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, karena itu adalah untuk-KU dan AKU yang akan memberinya ganjaran .Dan puasa itu merupakan benteng dari perbuatan maksiat, maka ketika datang saat berpuasa ,jangalah seorang berkata keji atau berteriak –teriak atau mencaci maki ! Dan seandainya di caci oleh seseorang atau di ajak berkelahi,hendaklah menjawab,”Aku ini berpuasa”,sampai dua kali. Demi tuhan yang nyawa Muhammad berada dalam tangan-Nya , bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah pada hari Kiamat dari pada bau kesturi . Dan orang yang berpuasa itu akan memperoleh dua kegembiraan yang menyenangkan hati:Pada saat berbuka , ia akan bergembira dengan berbuka itu ,dan pada saat ia menemui tuhanya nanti ,Ia akan gembira karena puasanya.”(HR.Ahmad ,Muslim,dan an-Nasa’i)

D. Macam – Macam Puasa

Secara garis besar, puasa terbagi kepada empat macam

1.  Puasa yang hukumnya wajib

2.  Puasa yang hukumnya sunnah

3.  Puasa yang hukumnya haram

4.  Puasa  yang hukumnya makruh

  • Puasa Wajib

Yang termasuk puasa wajib ada tiga macam:

1. Puasa yang wajib dilaksanakan dikarenakan waktunya yaitu puasa Ramadhan.

  1. Hukum puasa Ramadahan

Puasa Ramadhan adalah Puasa yang di laksanakan pada bulan Ramadhan yang merupakan salah satu rukun islam  dan Hukumnya wajib untuk di lakasanakan bagi kaum muslim. Di wajibkan mulai  hari Senin tanggal 1 Syaban tahun ke dua Hijriah.

Dalil puasa Ramadahan:

Firman Allah Swt “Wahai orang orang yang beriman di wajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(al-Baqoroh:183)

Firman Allah Swt :”Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya di turunkan Al-quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil karena itu, barang siapa diantara kamu ada di bulan itu,maka berpuasalah,,”(al-Baqarah:185)

Dalil Hadist :  Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa melaksanakan ibadah sunat pada malam lailatul qadar dengan dasar iman dan mencari keridhaan Allah, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

b.       Keutamaan Bulan Ramadhan

Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Apabila bulan Ramadhan tiba, pintu-pintu sorga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, serta syetan-syetan dibelenggu.” (HR. Muslim).

c.       Ancaman bagi yang berbuka di bulan Ramadhan

Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa berbuka (tidak puasa) satu hari saja di bulan Ramadhan tanpa adanya rukhshah atau sakit, maka tidak cukup puasa yang ditinggalkan itu diganti dengan puasa satu tahun penuh.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab shahihnya.Sedang teks hadis ini menurut riwayat Tirmidzi).

Dzhabi berkata bahwa bagi kaum mukminin telah menjadi ketetapan bahwa orang yang meninggalkan puasa ramadahan tanpa sakit adalah lebih jelek daripada pezina dan pemabuk bahkan mereka meragukan keislamanya dan mencurigakan sebagia zidink dan tanggal dari agamanya.

d.      Menetapkan Bulan Ramadhan

Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Apabila kamu melihat hilal (permulaan bulan), maka berpuasalah. Apabila kamu melihat hilal (akhir bulan), maka berbukalah.Dan apabila terjadi mendung, maka sempurnakanlah puasamu tiga puluh hari.” (HR. Muslim).

e.       Perbedaan Tempat Terbit bulan

dalam  Fat-hul ‘Alam ,syarah Bulughul Maram tercantum ,”yang lebih mendekati kapada kebenaran adlah keharusan bagi setiap neberi mengikuti rukyatnya ,berikut daerah-daerah lain ayng berada dalam satu garis bujur dengan negeri itu”.

2.   Puasa yang wajib dilaksanakan karena ada sebab, yaitu puasa kifarat.

Puasa kifarat ini adalah puasa untuk menebus kesalahan  yang telah dilakukan, misalnya orang  yang melakukan hubungan badan di siang hari bulan Ramadhan, maka ia harus menebus kesalahannya itu dengan jalan puasa dua bulan berturut-turut. Atau orang yang melanggar sumpahnya, ia juga harus berpuasa untuk menebus kesalahannya itu selama tiga hari berturut-turut.

  1. Puasa yang wajib dilaksanakan karena janji kepada Allah untuk dirinya atau disebut dengan puasa nadzar.

Misalnya, apabila seseorang berkata: “Seandainya saya tahun ini dapat lulus ujian, saya bernadzar (berjanji) akan puasa selama satu hari”. Kemudian, ternyata ujiannya lulus, maka orang tersebut wajib untuk berpuasa selama satu hari karena nadzarnya itu. Apabila ia tidak berpuasa, maka ia berdosa.

  •  Puasa Sunnah

a. Enam Hari pada bulan Syawal.

Dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa Nabi Bersabda:”Barang siapa yang berpuasa  pada bulan Ramadhan lalu diiringi nya dengan enam hari bulan Syawal ,maka seolah olah ia telah berpuasa sepanjang masa.”

Menurut Ahmad, puasa tersebut dapat di lakukan berturut –turut dan tidak ada kelebihan antara cara pertama dan yang kedua, sedangkan menurut golongan Hanafi dan Syafii. lebih utama di lakukan secara berturut –turut yaitu setelah hari raya.

b. Puasa Asyura dan sehari sebelum dan sesudahnya.

Puasa tanggal sembilan dan sepuluh Muharram (Puasa Asyura’).  Dalam berbagai keterangan disebutkan bahwa pada bulan Muharram disunnahkan untuk memperbanyak puasa sunnat. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Muharram dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam” (HR. Muslim). 

Sedangkan mengenai sunnahnya puasa pada tanggal sepuluh Muharram (puasa Asyura), di antaranya didasarkan kepada hadits berikut ini:

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Puasa Asyura itu (puasa tanggal sepuluh Muharram), dihitung oleh Allah dapat menghapus setahun dosa yang telah lalu” (HR. Muslim).

Demikian juga sunnah hukumnya melakukan puasa pada tanggal sembilan Muharram berdasarkan hadits berikut ini:

Artinya: Ibn Abbas berkata: “Ketika Rasulullah  saw berpuasa pada hari Asyura’, dan beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari tersebut, para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura itu hari yang dimuliakan oleh orang Yahudi dan Nashrani”. Rasulullah saw menjawab: “Jika tahun depan, insya Allah saya masih ada umur, kita berpuasa bersama pada tanggal sembilan Muharramnya”. Ibn Abbas berkata: “Belum juga sampai ke tahun berikutnya, Rasulullah saw keburu meninggal terlebih dahulu” (HR. Muslim).

Dari hadits ini, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal lebih menganjurkan agar berpuasanya pada kedua hari tersebut (sebaiknya tidak hanya berpuasa pada salah satunya saja), agar tidak menyerupai orang Yahudi dan Nashrani yang  berpuasa hanya pada tanggal sepuluhnya.

c.  Puasa pada  sebagian bulan sya’ban

Dalam berbagai keterangan disebutkan bahwa Rasulullah saw berpuasa pada bulan Sya’ban hampir semuanya. Beliau tidak berpuasa pada bulan tersebut kecuali sedikit sekali. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Adalah Rasulullah  saw seringkali berpuasa, sehingga kami berkata: “Beliau tidak berbuka”. Dan apabila beliau berbuka, kami berkata: “Sehingga ia tidak berpuasa”. Saya tidak pernah melihat Rasulullah saw berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Dan saya juga tidak pernah melihat beliau melakukan puasa sebanyak mungkin kecuali pada bulan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim).

d. Puasa Arafah (tanggal sembilan Dzulhijjah) bagi yang tidak melaksanakan ibadah Haji.

Ada empat perkara yang tidak pernah di tinggalkan oleh Rasullah saw :Puasa Asyura,puasa hari arafah , puasa tiga hari setiap bulan,dan shalat dua rakaat sebelum shubuh.(HR.Ahmad dan an-Nasa’i).

Orang yang tidak melaksanakan ibadah haji, disunnatkan untuk melaksanakan puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah atau yang sering disebut dengan puasa Arafah. Disebut puasa Arafah karena pada hari itu, jemaah haji sedang melakukan Wukuf  di Padang Arafah. Sedangkan untuk yang sedang melakukan ibadah Haji, sebaiknya tidak berpuasa.  Dalil disunnatkannya puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah Haji ini adalah hadits berikut ini:

Artinya: “Rasulullah saw bersabda: “Puasa pada hari Arafah akan dibalas oleh Allah dengan dapat menghapus dosa-dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya” (HR. Muslim).  yakni bulan Zulkaidah,zulhijah,,Muharam dan Rajab.Pada bulan-bulan ini di sunahkan untuk banyaka berpuasa.

e. Bepuasa pada hari senin-kamis

Sunnahnya melakukan puasa Senin Kamis ini berdasarkan hadits-hadits berikut Artinya: “Siti Aisyah berkata: “Rasulullah saw selalu berpuasa pada hari Senin dan Kamis” (HR. Turmudzi, Nasai dan Ibn Majah).

Dalam hadits lain disebutkan:

Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa Senin dan Kamis, beliau menjawab: “Dua hari itu adalah hari dimana amal perbuatan akan ditunjukkan (disetorkan) kepada Allah, dan saya menginginkan ketika amal saya disetorkan kepada Allah, keadaan saya sedang berpuasa” (HR. Nasai, Ahmad dan Baihaki).

f. Puasa Nabi Daud

Puasa Nabi Daud adalah puasa yang diselang satu hari, satu hari puasa, satu hari tidak, begitu seterusnya. Puasa ini termasuk puasa sunnah, di antaranya berdasarkan hadits berikut ini: Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Shalat dan puasa yang paling disukai oleh Allah adalah shalat dan puasa Nabi Daud as. Nabi Daud biasa tidur setengah malam, lalu ia bangun pada sepertiga malamnya, lalu tidur lagi pada seperenam malamnya. Puasa Nabi Daud juga satu hari berpuasa, satu hari berbuka” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan: “Dia adalah puasa yang paling baik” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadits berikut ini mengisyaratkan agar sebaiknya setiap bulan itu tidak melewatkan begitu saja tanpa puasa sunnah, paling tidak sebaiknya puasa meskipun hanya satu hari. Hal ini didasarkan kepada hadits berikut ini:

Artinya: Abdullah bin Syaqiq bertanya kepada Siti Aisyah: “Apakah Rasulullah saw pernah melakukan puasa sebulan penuh selain Ramadhan?” Siti Aisyah menjawab: “Demi Allah, beliau tidak melakukan puasa satu bulan penuh selain puasa Ramadhan, sampai beliau meninggal dunia. Dan beliau tidak berbuka sehingga beliau pernah berpuasa padanya (maksudnya tidak melewati satu bulan kecuali beliau pernah melakukan puasa sunnat di dalamnya)” (HR Muslim).

e. Puasa pada bulan-bulan suci

yakni bulan Zulkaidah,zulhijah,,Muharam dan Rajab.Pada bulan-bulan ini di sunahkan untuk banyaka berpuasa.

  • Puasa-puasa yang hukumnya haram

Berikut ini adalah puasa-puasa yang hukumnya haram:

1.  Puasa pada hari Raya Idul Fitri (tanggal 1 Syawal) dan pada hari Raya Idul Adha (tanggal 10 Dzulhijjah).  Sehubungan dengan puasa pada kedua hari ini, para ulama telah sepakat bahwa hukumnya haram (lihat dalam al-Mughni: 4/424 dan Fathul Bari: 4/281). Di antara dalil yang melarang puasa ini adalah:

Artinya: “Rasulullah saw melarang puasa pada dua hari: Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha” (HR. Bukhari Muslim).

2.  Puasa pada hari Tasyrik ,Para ulama juga telah sepakat bahwa puasa pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah) diharamkan. Hal ini di antaranya didasarkan kepada hadits berikut ini:

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Hari Tasyrik itu adalah hari makan dan minum (dilarang berpuasa)” (HR. Muslim).

Hanya saja, bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dan tidak mendapatkan hadyu (hewan sembelihan untuk membayar dam), diperbolehkan untuk berpuasa pada ketiga hari tasyrik tersebut. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini: Artinya: Siti Aisyah dan Ibn Umar berkata: “Tidak diperbolehkan berpuasa pada hari-hari Tasyrik, kecuali bagi yang tidak mendapatkan hadyu (hewan sembelihan)” (HR. Bukhari).

3.  Puasa pada hari yang diragukan (hari syak, ragu).

Apabila seseorang melakukan puasa sebelum bulan Ramadhan satu atau dua hari dengan maksud untuk hati-hati takut Ramadhan terjadi pada hari itu, maka puasa demikian disebut dengan puasa ragu-ragu dan para ulama sepakat bahwa hukumnya haram. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah saw:

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Seseorang tidak boleh mendahului Ramadhan dengan jalan berpuasa satu atau dua hari kecuali bagi seseorang yang sudah biasa berpuasa, maka ia boleh berpuasa pada hari terebut” (HR. Bukhari Muslim).

Dalam hadits lain disebutkan:

Artinya: Amar bin Yasir berkata: “Barangsiapa  yang berpuasa pada hari yang diragukan padanya, maka sungguh ia telah berbuat dosa kepada Abu Qasim,  Rasulullah saw” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

  •   Puasa-puasa yang hukumnya makruh
  1. Puasa hanya pada hari Jum’at

Berpuasa hanya pada hari Jum’at saja termasuk puasa yang makruh hukumnya, kecuali apabila ia berpuasa sebelum atau setelahnya, atau ia berpuasa Daud lalu jatuh pas hari Jumat, atau juga pas puasa Sunnat seperti tanggal sembilan Dzuhijjah itu, jatuhnya pada hari Jum’at. Untuk yang disebutkan di akhir ini, puasa boleh dilakukan, karena bukan dengan sengaja hanya berpuasa pada hari Jum’at.  Dalil larangan hanya berpuasa pada hari Jum’at saja adalah:

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Seseorang tidak boleh berpuasa hanya pada hari Jum’at, kecuali ia berpuasa sebelum atau sesudahnya” (HR. Bukhari Muslim).

2.  Puasa setahun penuh (puasa dahr)

Puasa  dahr adalah puasa yang dilakukan setahun penuh. Meskipun orang tersebut kuat untuk melakukannya, namun para ulama memakruhkan puasa  seperti itu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

Artinya: Umar bertanya: “Ya Rasulallah, bagaimana dengan orang yang berpuasa satu tahun penuh?” Rasulullah saw menjawab: “Ia dipandang tidak berpuasa juga tidak berbuka” (HR. Muslim).

3.  Puasa wishal

Puasa wishal adalah puasa yang tidak memakai sahur juga tidak ada bukanya, misalnya ia puasa satu hari satu malam, atau tiga hari tiga malam. Puasa ini diperbolehkan untuk Rasulullah saw dan Rasulullah saw biasa melakukannya, namun dimakruhkan untuk ummatnya. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini:

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian berpuasa  wishal” beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, anda sendiri melakukan puasa wishal?” Rasulullah saw bersabda kembali: “Kalian tidak seperti saya. Kalau saya tidur, Allah memberi saya makan dan minum. Oleh karena itu, perbanyaklah dan giatlah bekerja sekemampuan kalian” (HR. Bukhari Muslim).

4.  Puasa hanya pada hari Sabtu

Puasa hanya pada hari Sabtu ini ketentuannya  sama dengan puasa hanya pada hari Jum’at sebagaimana telah disebutkan di atas. Yang dilarang dari puasa hanya hari Sabtu itu adalah puasa yang hanya hari itu saja dan tidak bertepatan dengan  puasa yang disunatkan, misalnya tidak bertepatan dengan puasa Arafah, puasa Asyura dan lainnya (lihat dalam al-Majmu’ karya Imam Nawawi: 6/440), al-Mughni: 4/428). Dalil makruhnya puasa ini adalah hadits berikut ini:

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu kecuali apa yang telah Allah wajibkan kepada kalian. Apabila seseorang tidak mendapatkan selain kulit buah anggur atau dahan kayu, maka kunyahlah” (HR. Abu Dawud). Hanya saja, hadits ini lemah, sehingga untuk persoalan puasa ini para ulama sangat beragam pendapat. Namun demikian, hadits ini, hemat penulis, dikuatkan pula oleh hadits-hadits lainnya yang semakna. Oleh karena itu, berpuasa hanya pada hari Sabtu saja termasuk puasa yang hukumnya makruh.

E.  Rukun Puasa

1. Menahan diri.Yakni menahan  dari segala hal yang membatalkan puasa ,sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

2. Berniat .Berniat adalah menyengaja suatu perbuatan untuk menaati perintah Allah swt dalam mengharapkan keridhaa-NYa.Di lakukan sebelum fajar pada tiap bulan Ramadhan .

Firman Allah swt: ”padahal mereka hanya diiperintahkan menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata.”(al-Bayyinah:5)

Sabda Rasullah :”setiap perbuatan itu hanyalah dengan niat,dan setiap manusia akan memeproleh apa yang di niatkanya.”

F. Orang Yang Di Wajibkan Dalam Berpuasa

1. orang islam.

Orang –orang islam terutama bagi orang – orang yang beriman di wajibkan untuk berpuasa. Orang kafir di haramkan untuk berpuasa kecuali setelah masuk islam.

  1. Berakal : Orang yang mampu membedakan yang baik dan benar.
  2. Baligh(dewasa) : Orang yang sudah dewasa di wajibkan untuk berpuasa.
  3. Sehat : Yakni orang yang tidak berada dalam keadaan sakit .
  4. Menetap : Yakni orang orang yang tidak dalam perjalanan jauh ,atau pndah-pindah

G. Orang Yang Di Perbolehkan Untuk Tidak Berpuasa Tetapi Mengqhada

1. orang yang telah tua.

2. orang yang sakit dan kemungkinan  tidak dapat di sembuhkan.

3. Wanita haid dan nifas.

4. Wanita hamil dan menyusui.

5. orang –orang yang memiliki pekerjaan yang berat yang tidak memiliki pekerjaan lain selain pekerjaan yang di lakukanya.

Adapun orang yang tidak wajib berpuasa sama sekali adalah orang-orang kafir dan orang gila.

I. Adab Berpuasa

1. Makan Sahur.

Makan sahur hukumnya sunah. Anas Ra.berkata bahwa Rasullah saw bersabda :”makanlah sahur engkau karena makan sahur itu berkah,,”(HR.Bukhari dan Muslim)

Hal yang menyebabkan berkahnya adalah karena ia menguatkan orang yang berepuasa ,menggiatkan,dan memudahkanya.Dan makan sahur dianggap tercapai ,baik dengan makanan yang banyak maupun sedikit ,bahkan walau dengan seteguk air.

2. Menyegerakan Berbuka

Di sunahakan bagi orang yang berpuasa untuk menyegerakan berbuka,yaitu apabila matahari telah terbenam dengan jelas.Sa’ad berkata bahwa Nabi Saw bersabda:”Umat manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”(HR.Bukhari Dan Muslim)

Anas berkata pula bahwa Nabi Saw bersabda:”Jika makanan malam telah dihidangkan,maka makanlah terlebih dahulu sebelum shalat magrib.Janganlah makan malammu itu di belakangakan!”(HR.Bukhari dan Muslim).

 

 

3.  Berdoa ketika Berbuka dan Berpuasa.

Diriwayatkan oleh ibnu majah dari Abdullah bin Amr bin Ash bahwa Nabi saw bersabda ;”Sesungguhanya orang yang bepuasa  ,pada saat bebuka,terdapat waktu yang di makbulkan doa .”dan ketika berbuka,Abdullah mengucapkan dalam lla doanya ,Allhumma inni asa’luka birahmatika kallatiwasi ‘at kulla syai’I taghfira li,(ya Allah ,aku mohon kepada-Mu ,dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu,agar aku Engkau mengampuniku.)

  1. Menjauhi Hal-Hal yang bertentangan dengan Puasa.

Berpuasa tidaklah hanya menahan diri ati makan dan minum ,tetapi juga menahan makan minum dan hala-hal yang di larang oleh Allah.

  1. Menggosok gigi

Di sunahkan bagi orang yang berpuasa untuk menggosok gigi pada sat berpuasa.Tidak  ada perbedaan antara waktu pagi dan sore hari .Nabi Muhammad saw biasa menggosok gigi pada saat berpuasa.

  1. Murah hati dan mempelajari Al.Quran.

Di riwaaytkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas.R.a.:”Rasullah saw adalah orang yang paling dermawan. Sifat dermawan itu lebih menonjol pada bulan Ramadhan,yaitu ketika beliau di temui oleh Jibril .Biasanya ,Jibril menemui beliau pada setiap bulan ramdhan ,untuk mempelajari Alquran .Maka Rasullah saw lebih murah hati melakukan kebaikan dari pada angin yang bertiup .”

  1. Giat dalam beribadah

Sudah tentu di utamakan dalam bulan Ramadhan untuk memeperbanyak amal dan giat dalam beribadah.

J. Hal-hal Yang di Perbolehkan Ketika Berpuasa.

1. Keluar sperma dan menyelam dalam air

Orang yang berpuasa apabila tidak di sengaja air masuk kedalam rongga perut orang yang berpuasa maka puasanya tetap sah.

Nabi saw pada waktu subuh berada dlam keadan junub ,sedangkan beliau berpuasa,kemudian beliau mandi.”(Sahih Bukhari dan Muslim)

2. Memakai celalak dan meneteskan obat atu lain lain kedalam mata.

3. Mencium bagi orang yang sanggup menahan  dan menguasai syahwat atau nafsu seksualnya.

Aisyah r.a. berkata:”Nabi saw biasa mencium ketika berpuasa dan bersentukan ketika berpuasa dan beliau adalah orang yang paling mampu menguasai nafsu.”

4. Suntikan

5. Berbekam yaitu mengeluarkan darah dari bagian kepala.

S“Apakah pada masa Rasullah saw,berbekam iru dianggap makruh?Anas berkat,Tidak ,keculai apabila melamahkan.”(HR.Bukhari dan lain-lain)

6.Berkumur dan memasukan air ke rongga hidung ,dengan syarat tidak berlebihan.

7.Juga di bolehkan misalnya menelan air liur,atau mencicipi makanan yang hendak akan di beli.

8.Di bolehkan orang yang berpuasa untuk makan,mimun dan bersenggama hingga terbit fajar.

9.Di bolehkan orang yang berpuasa berada dalam keadan junub di waktu subuh.

10.Wanita-wanita haid atau dalam keadaan nifas .Jika darah mereka terhenti di waktu mala,boleh menaggguhkan mandi hingga subuh sambil berpuasa.Kemudian mereka mandi untuk melakukan shalat.

K. Hal-hal yang membatalkan Puasa dan wajib qadha .

  1. Makan dan minum dengan sengaja.

Seseorang apabila makan dan minum dengan di sengaja maka batal puasanya dan wajib untuk menggantinya di hari lain.

  1. Muntah dengan sengaja

Yakni memasukan sesuatu dengan sengaja ke dalam mulut ,dengan sengaja hingga akhirnya muntah maka puasanya tidak batal dan wajib untuk menggatinya di hari lain(mengqhada).

  1. Haid dan nifas.

Pada waktu haid dan nifas seseorang tidak boleh berpuasa dan wajib juga menggantinya di hari lain ,atau dengan memberi makan kaum fakir miskin sebanyak 60 orang.

  1. Mengeluarkan mani atau sperma.

Baik disebabkan laki-laki mencium atau memeluk istrinya maupun dengan masrutbrasi hal tersebut membatalkan puasa dan wajib untuk mengqhada.

  1. Memasukan makan lewat kerongkongan.

Memasukan sesuatu dengan sengaja lewat kerongkongan maka puasanya batal dan wajib untuk mengqhada.

  1. Meniatkan berbuka.

Barang siapa yang berpuasa kemudian meniatkan untuk berbuka maka puasanya batal karena nita berbuka merupakan salah satu rukun puasa.

  1. Makan ,minum ,atau bersenggama pada waktu siang hari.

Sudah jelas bahwa orang yang berpuasa kemudian makan ,minum dan bersenggama di siang hari maka batal puasanya dan wajib untuk menggantinya.

L. Hari-hari yang di larang puasa

Beberapa hadist yang menyebutkan dengan tegas melarang berpuasa pada hari-hari tertentu.

  1. Larangan berpuasa pada kedua Hari Raya .

Berdasarkan apa yang di katakana oleh Umar.r.a.:”Sesungguhnya Rasullah saw melarang berpuasa pada kedua hari ini.Mengenai Hari Raya Fitri karena hari itu merupakan saat berbukamu dari puasamu (Ramadhan) ,sedangkan mengenai Hari raya Adha,agar kamu dapat memakan hasil kurbanmu.”(HR.Ahmad,Bukhari,Muslim,Abu dawud,dan An-nasa’i).

Berdasarkan Hadist diatas bahwa para Ulama telah berijma atas haramnya berpuasa pada kedua Hari raya .baik puasa fardhu maupun puasa sunnah.

  1. Larangan berpuasa pada Hari Tasyriq.

Diriwayatka oleh Abu Hurairah r.a.:”Rasullah saw.mengutus Abdullah bin Hudzaifah berkeliling Mina untuk menyampaikan .Janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makanminum dan mentaati Allah azza wajallah.”(HR.Ahmad dengan sanad yang baik.)

Berdasarkan Hadist di atas tidak boleh berpuasa pada hari Tasyrik yaitu tiga hari berturut –turut setelah hari raya adha.

  1. Larangan berpuasa pada Hari Jumat secara khusus.

Hari Jumat adalah ahri raya pekanan bagi kaum muslimin .Oleh Karen itu,di larang untuk berpuasa pada saat itu .Akan tetapi jumhur berpendapat bahwa larangang itu berarti makruh,bukan menunjukan haram, keculai bila seseorang berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudanya,atau sesuai denga kebiasanya atau kebetulan pada hari Arafah atau hari Asyura ,maka tidaklah makruh berpuasa pada hari Jumat itu.

Dari Amir al-Asyari berkata,”aku mendengant Rasullah bersabda:’Sesunggunya hari Jumat itu merupakan hari raya mu .Oleh sebab itu ,janganlah berpuasa pada hari itu ,kecuali jika engkau berpuasa sebelmunya atau sesudahnya,”(HR.Bazzar dengan sanadnya yang baik.)

  1. Larangan mengkhususkan Hari Sabtu  untuk puasa.

Rasullah sawa bersabda:”Janganlah kamu berpuasa pada hari Sabtu ,keculai mengenai yang di wajibkan keatasmu.Seandainya seseotan diantara kamu tidak menemukan keculai kulita anggur atau vungkal kayu ,hendaklah mengunyahanya makanan itu.”(HR.Amad.asy –habus sunan,dan Hakim .)

  1. Larangan berpuasa pada hari yang di ragukan.

Ammar bin Yasir r.a berkata:” Barang siapa yang berpuasa pada hari yang di ragukan nya berarti ia telah durhaka kepada Abul Qasim saw(Nabi Muhammad saw.(HR.Ash-habus Sunan)

  1. larangan berpuasa sepanjang masa.

Sabda Rasullah saw;”Tidaklah berarti puasa orang yang berpuasa sepanjang masa.”(HR.Ahmad ,Bukhari,dan Muslim)

  1. Larangan berpuasa bagi wanita jika suaminya di rumah keculai dengan izinya.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasullah saw bersabda :”Jangalah seorang wanita berpuasa walu satu haari pun jika suaminya berada di rumah ,tanpa seizinya ,kecuali puasa Ramadhan”.(HR.Bukhari dan Muslim)

  1. Larangan berpuasa Wishal dalam berpuasa.

Rasullah saw bersabda;”Janganlah kamu berwishal !dan barang siapa ingin melakukanya juga ,maka berwishallah hingga waktu sahur.”(HR.Bukhari dan Sa’id al-Khudri r.a)

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s